Kemenag Edukasi 80 Siswa SMA Soal Kesehatan Reproduksi hingga Ketahanan Keluarga
Keluarga Sakinah, 20 Agustus 2026, 22:41 WIB
Jakarta, Bimas Islam — Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama melatih 80 siswa menjadi Peer Educator atau edukator sebaya. Para peserta dibekali pengetahuan dan keterampilan tentang kesehatan reproduksi, hak anak, risiko pernikahan usia anak, komunikasi dan konseling sebaya, serta ketahanan keluarga.
Pembekalan tersebut diarahkan agar siswa memahami berbagai persoalan yang dekat dengan kehidupan remaja. Selain untuk meningkatkan pengetahuan pribadi, peserta dipersiapkan menjadi sumber informasi awal dan pendamping bagi teman sebaya yang menghadapi persoalan.
Direktur Jenderal Bimas Islam Abu Rokhmad mengatakan pendekatan sebaya penting karena remaja cenderung lebih mudah menerima pesan dari teman seusianya. Komunikasi yang setara dan dekat dengan keseharian dinilai membuat pesan pembinaan lebih mudah diterima.
“Adik-adik akan lebih mudah dipercaya oleh teman-teman sekelas dibandingkan kami yang jauh lebih tua ini. Karena itu, hari ini adik-adik tidak hanya akan dibekali dengan pengetahuan tentang bahaya dan risiko pernikahan usia anak, tentang kesehatan reproduksi, tentang hak-hak anak, maupun tentang keterampilan komunikasi dan konseling sebaya,” ujar Abu di Jakarta, Kamis (20/8/2026).
Menurutnya, pengetahuan tersebut perlu diberikan sejak dini agar remaja mampu mengenali diri, memahami lingkungan, dan mengambil keputusan secara bijak. Pemahaman tersebut juga diharapkan membantu remaja mengenali berbagai risiko yang dapat memengaruhi masa depan.
“Adik-adik yang saya cintai, penting bagi kita untuk mengetahui hal-hal ini lebih awal—mengenai diri sendiri dan keluarga. Dari situ kita bisa sama-sama membangun kehidupan masa depan yang lebih baik. Bapak-Ibu guru juga nanti bisa membantu kalian semua,” katanya.
Abu mengatakan, pembinaan remaja tidak dapat dipisahkan dari penguatan keluarga. Menurutnya, keluarga merupakan lingkungan pertama yang membentuk karakter dan cara anak menghadapi kehidupan.
“Saya kira langkah terbaik untuk mencapai kehidupan yang lebih baik dimulai dari keluarga. Ini bukan sekadar asumsi, tetapi bisa dibuktikan: keluarga yang harmonis, rukun, dan damai akan menciptakan lingkungan dan masyarakat yang harmonis pula,” tuturnya.
Ia menjelaskan, keluarga harmonis bukan berarti keluarga tanpa persoalan atau keluarga dengan kondisi ekonomi berlebih. Setiap keluarga memiliki latar belakang dan tantangan masing-masing. Hal yang penting adalah kemampuan anggota keluarga membangun komunikasi, saling memahami, dan menyelesaikan persoalan bersama.
Dalam konteks tersebut, Abu mengajak para siswa memanfaatkan masa remaja untuk belajar, baik di dalam maupun di luar kelas. Menurutnya, pengalaman dan keterampilan yang diperoleh sejak remaja menjadi bekal penting untuk membangun masa depan.
“Tanggung jawab kalian di usia ini adalah banyak belajar, baik di dalam kelas maupun di luar kelas, karena itu memberikan banyak pengalaman dan skill penting yang kalian butuhkan,” katanya.
Abu juga mengingatkan pentingnya komunikasi terbuka antara remaja dan orang tua. Menurutnya, sebagian remaja terkadang kesulitan menyampaikan persoalan atau hal yang ingin mereka ketahui kepada orang tua. Karena itu, orang tua perlu memahami cara berpikir anak dan menciptakan ruang dialog yang nyaman.
Komunikasi terbuka dapat membantu remaja memperoleh pendampingan yang tepat ketika menghadapi persoalan. Guru dan teman sebaya juga memiliki peran penting sebagai bagian dari lingkungan yang mendukung perkembangan remaja.
Sementara itu, Kasubdit Bina Keluarga Sakinah Jaja Zarkasyi, mengatakan, kegiatan tersebut dilaksanakan melalui kolaborasi lintas lingkungan pendidikan. Kemenag bekerja sama dengan Direktorat Pendidikan Agama Islam (PAI) dengan melibatkan jaringan Rohani Islam (Rohis), serta menghadirkan perwakilan madrasah, sekolah umum, dan pesantren.
“Kami juga bekerja sama dengan Direktorat PAI, menggandeng kawan-kawan Rohis yang selama ini menjadi binaan dan mitra Direktorat PAI, sehingga kami menghadirkan pula beberapa sekolah umum,” ujar Jaja.
Menurut Jaja, keberagaman peserta menjadi kekuatan dalam memperluas pembinaan remaja. Keterlibatan siswa dari madrasah, sekolah umum, Rohis, dan pesantren memungkinkan terjadinya pertukaran pengalaman sekaligus memperluas jejaring edukasi sebaya.
“Jadi, ini adalah kolaborasi kami: ada yang mewakili madrasah, ada yang mewakili sekolah lokasi, ada SMA Negeri yang mewakili kawan-kawan Rohis, dan ada yang mewakili kawan-kawan dari pesantren. Kami berharap dengan keragaman ini program penguatan ketahanan keluarga kita bisa semakin kuat,” katanya.
Jaja menjelaskan, kegiatan tersebut menjadi langkah awal untuk memperluas pembinaan remaja. Pada tahap awal, sekolah yang diundang mengirimkan perwakilan OSIS, tujuh siswa, dan satu guru pendamping.
Ke depan, program Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS) akan dikembangkan di tingkat kabupaten dan provinsi dengan melibatkan sekolah yang telah mengikuti BRUS tingkat nasional. Peserta yang telah mendapatkan pembekalan diharapkan dapat turut memfasilitasi edukasi bagi remaja di sekolah masing-masing.
Untuk mendukung keberlanjutan program, Kemenag juga menyiapkan pendampingan kelembagaan yang akan dikawal tim Direktorat Jenderal Bimas Islam. Pendampingan tersebut diharapkan memastikan pembinaan yang telah diberikan dapat diterapkan dan dikembangkan di sekolah.
Penguatan tersebut sejalan dengan arahan Menteri Agama Nasaruddin Umar agar program Kemenag tidak berhenti pada pelaksanaan kegiatan, tetapi memberikan manfaat dan dampak nyata bagi masyarakat. Pembinaan remaja menjadi salah satu ruang strategis untuk mewujudkan hal tersebut karena perubahan pada remaja dapat berkontribusi terhadap penguatan keluarga dan lingkungan sosial.
Melalui kegiatan tersebut, Kemenag berharap 80 siswa yang telah mendapatkan pembekalan mampu menjadi bagian dari lingkungan pendukung bagi remaja lainnya. Pengetahuan tentang kesehatan reproduksi, hak anak, pencegahan pernikahan usia anak, komunikasi sebaya, dan ketahanan keluarga diharapkan tidak berhenti di ruang pelatihan, tetapi diterapkan dan dikembangkan di sekolah serta lingkungan pertemanan masing-masing.
Kegiatan yang berlangsung pada 19–21 Juli 2026 di Jakarta tersebut diikuti sekitar 100 peserta yang terdiri atas siswa dan guru pendamping dari madrasah, sekolah umum, dan pesantren. Peserta berasal dari SMA Negeri 1 Jakarta, SMA Negeri 71 Jakarta, SMA Negeri 74 Jakarta, MAN 10 Jakarta, MAN 3 Jakarta, SMA Negeri 34 Jakarta, SMA Negeri 100 Jakarta, MAN 1 Kota Bandung, MAN 1 Darussalam Ciamis, MAN 1 Karawang, MA Amtsilati Bangsri Jepara, dan MAN 1 Yogyakarta.
Sumber:
https://bimasislam.kemenag.go.id/post/berita/kemenag-edukasi-80-siswa-sma-soal-kesehatan-reproduksi-hingga-ketahanan-keluarga
Komentar
Informasi Terkini
Calon Pengantin Sakit, KUA Kutasari Layani Akad Nikah di Puskesmas
Wujudkan Ekoteologi, Dirjen Bimas Islam Pimpin Gotong Royong Bersama Kepala KUA se Kota Medan
Hadiri Nikah Massal di GBK, Ini Pesan Wamenag untuk Para Pengantin
Jejak Pernikahan Seabad Tersusun Rapi dalam Lembaran Aksara Jawa
