Kemenag Beri Dukungan Psikososial bagi Penyintas Bencana di Aceh
Keluarga Sakinah, 10 Januari 2026, 15:56 WIB
Jakarta, Bimas Islam — Direktorat Bina KUA dan Keluarga Sakinah, Ditjen Bimas Islam, Kementerian Agama (Kemenag) menggelar program dukungan psikososial bagi penyintas banjir dan longsor di Provinsi Aceh. Program ini difokuskan pada pemulihan kesehatan mental keluarga dan komunitas terdampak bencana.
Direktur Bina KUA dan Keluarga Sakinah, Ahmad Zayadi, mengatakan bencana alam tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik, tetapi juga meninggalkan dampak psikologis yang serius bagi para penyintas, terutama kelompok rentan.
“Bencana tidak hanya merusak rumah, sekolah, fasilitas kesehatan, dan infrastruktur, tetapi juga sangat memengaruhi kesehatan mental dan psikososial penyintas, terutama anak-anak, remaja, orang tua, dan keluarga,” ujar Ahmad Zayadi saat dihubungi, Rabu (7/1/2026).
Ia menjelaskan, trauma pascabencana berpotensi memicu gangguan stres pascatrauma (PTSD), kecemasan, depresi, gangguan tidur, hingga konflik dalam keluarga apabila tidak ditangani secara sistematis.
“Intervensi psikososial berbasis komunitas terbukti efektif untuk menekan dampak psikologis, memperkuat ikatan sosial, serta meningkatkan ketahanan keluarga. Metode seperti terapi bermain, storytelling, pelatihan coping, dan konseling keluarga menjadi pendekatan utama dalam program ini,” jelasnya.
Dalam pelaksanaannya, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag bekerja sama dengan Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKK NU). Program ini melibatkan relawan penyuluh agama, penghulu, relawan organisasi kemasyarakatan NU, serta guru PAUD, TK, dan RA.
“Program ini tidak hanya bersifat respons cepat, tetapi juga berkelanjutan. Fokus kami adalah penguatan kesehatan mental keluarga dan komunitas, terutama bagi penyintas dengan kondisi subklinis yang belum mengalami gangguan jiwa berat,” tambah Ahmad Zayadi.
Sementara itu, Kepala Subdirektorat Bina Keluarga Sakinah, Zudi Rahmanto, menyampaikan, hasil asesmen Kanwil Kemenag Aceh menunjukkan bahwa sejumlah daerah mengalami dampak bencana berat dan berpotensi menimbulkan kerentanan sosial psikologis.
“Hasil asesmen menunjukkan wilayah terdampak cukup berat meliputi Kabupaten Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Utara, Aceh Tengah khususnya Kecamatan Takengon, Bener Meriah, Gayo Lues, Kota Langsa, Aceh Singkil, dan Aceh Tamiang,” ungkap Zudi.
Namun, pada tahap awal, program dukungan psikososial difokuskan pada tiga kabupaten, yaitu Pidie Jaya, Bireuen, dan Aceh Utara. Penetapan lokasi tersebut mempertimbangkan tingkat kerusakan, jumlah penyintas dan pengungsi, tingginya kelompok rentan, serta akses ke wilayah terdampak yang telah terbuka.
Zudi menambahkan, pembekalan relawan akan dilaksanakan pada 5 Januari 2026 di Kantor Kemenag Kabupaten Pidie Jaya, 6 Januari 2026 di Kantor KUA Muara Batu, Kabupaten Aceh Utara, dan 7 Januari 2026 di Kantor Kemenag Kabupaten Bireuen. Selanjutnya, kegiatan konseling, konsultasi, serta trauma healing bagi anak-anak dan keluarga penyintas dijadwalkan berlangsung pada 8–31 Januari 2026 di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh Utara, dan Bireuen. Program ini dilaksanakan secara berkelanjutan hingga masyarakat terdampak memiliki sistem dukungan (support system) yang kuat dan mampu memulihkan ketahanan psikososial secara mandiri.
“Melalui pembekalan Psychological First Aid (PFA) dan Rapid Assessment Mental Health, kami berharap relawan mampu memberikan pendampingan yang tepat, memperkuat ketahanan psikososial penyintas, serta mendorong advokasi layanan kesehatan mental di daerah terdampak,” pungkas Zudi.
Sumber:
https://bimasislam.kemenag.go.id/web/post/berita/kemenag-beri-dukungan-psikososial-bagi-penyintas-bencana-di-aceh
Komentar
Informasi Terkini
Latih 100 Fasilitator Bimbingan Remaja, Kemenag Tekankan Penguatan Ketahanan Keluarga
Genjot Kompetensi Penghulu, Dirjen Bimas Islam Dorong Kolaborasi dengan Perguruan Tinggi
Kemenag Gelar Lomba Video Tepuk Sakinah Berhadiah Jutaan Rupiah
Gerakan Indonesia Asri, Kemenag Mulai dari Lingkungan KUA
