Kemenag Tekankan Pentingnya Pendekatan Empatik Fasilitator BRUS dalam Penguatan Karakter Remaja
Keluarga Sakinah, 06 Februari 2026, 19:08 WIB
Jakarta, Bimas Islam — Sekretaris Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama, Lubenah, mengungkapkan pentingnya peran fasilitator Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS) dalam penguatan karakter remaja. Fasilitator tidak hanya dituntut menguasai materi, tetapi juga mampu menerapkan pendekatan yang ramah, empatik, dan mudah dipahami oleh remaja.
Lubenah menekankan bahwa fasilitator BRUS harus memiliki kemampuan membangun kedekatan emosional dengan remaja. Oleh karena itu, fasilitator perlu menyampaikan pesan secara terbuka, dengan senyum, serta menggunakan bahasa yang membumi agar materi bimbingan dapat diterima dengan baik.
“Fasilitator harus siap menghadapi berbagai tantangan dan medan di lapangan. Namun sebelum membimbing orang lain, yang paling penting adalah memperbaiki diri sendiri. Hadirkan energi positif, karena itu akan langsung dirasakan oleh para remaja,” ujarnya saat memberikan materi pada kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Fasilitator BRUS di Jakarta, Kamis (5/2/2026).
Ia mengingatkan, pesan edukasi tidak akan tersampaikan secara maksimal apabila fasilitator masih terjebak pada persoalan diri, seperti rasa cemas, takut, atau bahkan kesombongan. Karena itu, penguatan spiritual menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari peran fasilitator BRUS.
“Jika dalam proses pendampingan muncul rasa cemas, takut, atau kelelahan batin, lakukan renungan. Perkuat diri dengan salat tahajud, membaca Al-Qur’an, dan amalan lainnya agar hati kembali jernih dan niat tetap lurus,” lanjutnya.
Ia menjelaskan, remaja merupakan kelompok usia yang masih labil dan berada dalam fase pencarian jati diri. Ketika remaja belum menemukan identitas dan kepercayaan diri, kondisi tersebut dapat berdampak serius, mulai dari rendahnya kontrol diri, mudah terpengaruh lingkungan negatif, hingga pengambilan keputusan berisiko bagi masa depan, termasuk perkawinan usia anak.
“Di sinilah peran fasilitator menjadi sangat strategis. Fasilitator memiliki tugas penting untuk memberikan edukasi, menanamkan rasa percaya diri, serta membantu remaja mengenali potensi dan nilai dirinya. Ketika remaja merasa didampingi, didengar, dan dihargai, mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat, berkarakter, dan memiliki orientasi masa depan yang jelas,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Subdirektorat Bina Keluarga Sakinah, Zudi Rahmanto, menambahkan, para calon fasilitator BRUS harus memberikan pendampingan secara optimal agar program ini berdampak langsung pada kehidupan remaja.
“Ini tantangan kita bersama. Jika ingin menjadi pendamping remaja yang baik, bapak dan ibu harus menyesuaikan diri dengan kehidupan remaja. Pahami dunia mereka dan tahan diri untuk tidak sedikit-sedikit menceramahi,” ujar Zudi.
Ia berharap para fasilitator mampu memosisikan diri sebagai sahabat sekaligus pendamping yang dipercaya oleh remaja. Dengan pendekatan yang tepat, BRUS diharapkan menjadi ruang aman dan edukatif yang berkontribusi nyata dalam menekan angka perkawinan anak, memperkuat karakter remaja, serta menyiapkan generasi muda yang matang secara mental, spiritual, dan sosial dalam menghadapi masa depan.
Sumber:
https://bimasislam.kemenag.go.id/web/post/berita/kemenag-tekankan-pentingnya-pendekatan-empatik-fasilitator-brus-dalam-penguatan-karakter-remaja
Komentar
Informasi Terkini
Latih 100 Fasilitator Bimbingan Remaja, Kemenag Tekankan Penguatan Ketahanan Keluarga
Genjot Kompetensi Penghulu, Dirjen Bimas Islam Dorong Kolaborasi dengan Perguruan Tinggi
Kemenag Gelar Lomba Video Tepuk Sakinah Berhadiah Jutaan Rupiah
Gerakan Indonesia Asri, Kemenag Mulai dari Lingkungan KUA
