BERITA

Cegah Kawin Anak, Siswa MAN 1 Kota Bandung Kembangkan Edukasi Sebaya

Keluarga Sakinah, 20 Agustus 2026, 21:34 WIB

Peran Peer Educator Cegah Perkawinan Anak di Sekolah

Jakarta, Bimas Islam — Pengalaman mengikuti pembinaan Peer Educator Kementerian Agama mendorong Muhammad Tuhfatul Awaluddin, siswa kelas XII MAN 1 Kota Bandung, mengembangkan edukasi sebaya di sekolah. Sebagai Duta Peer Educator, Tuhfatul bersama teman-temannya menggelar kampanye pencegahan perkawinan anak, menyediakan ruang curhat sebaya, dan mengadakan seminar bagi siswa.

Salah satu kegiatan yang dikembangkan Tuhfatul adalah video kampanye pencegahan perkawinan anak yang disebarluaskan melalui media sosial. Menurutnya, media sosial merupakan ruang yang dekat dengan kehidupan remaja sehingga dapat dimanfaatkan sebagai sarana edukasi dengan bahasa yang mudah diterima teman sebaya.

Melalui konten tersebut, Tuhfatul dan teman-temannya mengangkat sejumlah persoalan yang dekat dengan kehidupan remaja, seperti risiko perkawinan anak, kenakalan remaja, dan pentingnya mempersiapkan masa depan.

“Program yang ada di sekolah salah satunya video kampanye cegah kawin anak yang kami bagikan melalui media sosial. Ini merupakan upaya kami memberikan pemahaman kepada remaja mengenai bahaya kawin anak, kenakalan remaja, dan berbagai persoalan lainnya,” ujar Tuhfatul saat mengikuti kegiatan Peer Educator di Jakarta, Rabu (19/8/2026).

Selain kampanye digital, Muhammad mengembangkan “Rumah Pulang Bersama Teman” melalui kolaborasi dengan OSIS dan guru Bimbingan dan Konseling (BK). Program tersebut menjadi ruang bagi siswa untuk menyampaikan cerita, persoalan, dan keresahan yang mereka alami di sekolah.

Menurut Tuhfatul, pendekatan teman sebaya membuat siswa lebih nyaman untuk membuka diri. Peer Educator menjadi pendengar awal sekaligus memberikan informasi dan edukasi sesuai dengan persoalan yang disampaikan.

“Rumah Pulang Bersama Teman ini merupakan kolaborasi dengan OSIS dan BK. Kami mendengarkan curhatan teman-teman, kemudian memberikan edukasi dan konsultasi. Kalau persoalannya membutuhkan pendampingan lebih lanjut, kami berkoordinasi dengan guru BK,” katanya.

Ia menilai ruang tersebut penting karena tidak semua remaja merasa nyaman menyampaikan persoalannya kepada orang tua atau guru. Teman sebaya dapat menjadi pintu awal agar siswa berani bercerita dan tidak menghadapi persoalannya seorang diri.

Tuhfatul bersama pihak sekolah juga menggelar seminar bertajuk “Kenali Lebih Dekat, Muda Bergerak, Ciptakan Dampak”. Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi siswa untuk mengenali diri, memahami persoalan remaja, dan mendorong mereka mengambil peran positif di lingkungan sekolah.

Melalui seminar tersebut, siswa diajak memahami masa remaja sebagai fase penting untuk belajar, mengembangkan potensi, membangun relasi yang sehat, dan mempersiapkan masa depan. Siswa juga didorong untuk mencari informasi dan meminta bantuan ketika menghadapi persoalan.

Bagi Tuhfatul, pengalaman mengikuti Peer Educator menjadi bekal untuk mengembangkan kegiatan sesuai dengan kebutuhan siswa. Ia tidak ingin pengetahuan yang diperoleh berhenti sebagai pengetahuan pribadi, tetapi diterjemahkan menjadi kegiatan yang bermanfaat bagi teman sebaya.

“Yang kami lakukan bukan hanya menyampaikan materi, tetapi bagaimana teman-teman bisa merasa punya tempat untuk bertanya dan bercerita. Jadi, kami berusaha hadir sebagai teman terlebih dahulu,” ujarnya.

Kasubdit Bina Keluarga Sakinah, Jaja Zarkasyi, mengapresiasi inisiatif Tuhfatul dan pihak sekolah dalam menerjemahkan pembinaan Peer Educator menjadi kegiatan nyata. Menurutnya, kreativitas siswa dalam mengembangkan edukasi sebaya menunjukkan bahwa pembinaan remaja dapat dilakukan dengan pendekatan yang dekat dengan kehidupan mereka.

“Dengan adanya program-program seperti ini, edukasi tidak hanya berhenti di dalam kelas atau pada saat kegiatan Peer Educator. Anak-anak kemudian menerjemahkannya menjadi kegiatan yang mereka pahami dan dekat dengan kehidupan teman-temannya,” ujar Jaja.

Jaja menilai kolaborasi siswa, OSIS, dan guru BK menjadi salah satu kekuatan dalam pelaksanaan program tersebut. Peer Educator dapat menjadi teman sebaya yang mendengarkan dan memberikan edukasi awal, sedangkan guru BK memberikan pendampingan ketika persoalan siswa membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Menurutnya, pola tersebut dapat menciptakan lingkungan sekolah yang lebih mendukung tumbuh kembang remaja. Siswa tidak hanya memperoleh informasi, tetapi juga memiliki ruang untuk berdiskusi, mendapatkan pendampingan, dan saling mendukung.

“Dengan adanya program tersebut, kita berharap semakin banyak remaja yang berani berbicara, saling mendukung, dan memahami bahwa ketika menghadapi persoalan mereka tidak sendirian,” katanya.

Jaja berharap praktik yang dikembangkan di MAN 1 Kota Bandung dapat menjadi inspirasi bagi sekolah lain dalam mengembangkan edukasi sebaya. Setiap sekolah dapat menyesuaikan bentuk kegiatan dengan kebutuhan dan karakter siswanya, baik melalui media sosial, forum diskusi, ruang konsultasi, maupun kegiatan edukasi lainnya.

Pengalaman Tuhfatul menunjukkan bahwa peran Peer Educator dapat berlanjut setelah pembinaan selesai. Pengetahuan yang diperoleh kemudian diterjemahkan menjadi kampanye media sosial, ruang curhat, dan forum edukasi yang melibatkan siswa lainnya.

Upaya edukasi remaja tersebut sejalan dengan perhatian Menteri Agama Nasaruddin Umar terhadap pentingnya pembinaan generasi muda dalam mencegah perkawinan usia dini. Menag menyampaikan bahwa Bimbingan Remaja Pra Nikah yang menyasar remaja usia 15–19 tahun melalui kegiatan edukatif di sekolah dan pesantren berkontribusi terhadap peningkatan kesadaran generasi muda mengenai kesiapan berumah tangga.

Sumber:
https://bimasislam.kemenag.go.id/post/berita/cegah-kawin-anak-siswa-man-1-kota-bandung-kembangkan-edukasi-sebaya

Komentar