BERITA

Penasihat DWP Kemenag Sampaikan Tiga Pesan untuk Remaja

Keluarga Sakinah, 22 Agustus 2026, 21:15 WIB

Peer Educator Kemenag untuk Cegah Perkawinan Anak

Jakarta, Bimas Islam -- Penasihat Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Agama, Helmi Nasaruddin Umar, menyampaikan tiga pesan kepada remaja dalam kegiatan Peer Educator yang diikuti siswa MAN dan SMA, Jumat (21/8/2026), di Jakarta. Kegiatan itu digelar Subdirektorat Bina Keluarga Sakinah Kementerian Agama sebagai upaya mencegah perkawinan anak dan kenakalan remaja melalui edukasi teman sebaya.

Helmi mengatakan, masa remaja merupakan fase penting dalam pembentukan jati diri, karakter, dan arah masa depan. Karena itu, pembinaan remaja tidak hanya berfokus pada risiko, tetapi juga mengembangkan potensi mereka agar menjadi generasi yang sehat, terampil, dan mampu memimpin.

Pesan pertama, Helmi meminta remaja menjadi pribadi yang sehat, terampil, dan siap memimpin. "Remaja adalah generasi yang sedang berada pada fase pembentukan jati diri, karakter, dan arah masa depan. Karena itu, perhatian kepada remaja tidak boleh hanya dilihat dari sisi risiko, tetapi juga dari potensi besar yang mereka miliki sebagai calon pemimpin, penggerak perubahan, dan penerus bangsa," ujarnya.

Istri dari Menteri Agama itu mengatakan, remaja perlu memanfaatkan masa pertumbuhan dengan belajar, mengembangkan potensi, memperluas pengalaman, membangun kemandirian, dan berlatih memimpin.

"Kita ingin melahirkan remaja yang sehat secara fisik, kuat secara mental, matang secara spiritual, berakhlak mulia, terampil, percaya diri, dan mampu mengambil keputusan dengan bijak," katanya.

Ia berpesan agar remaja menyelesaikan pendidikan, menjaga kesehatan, membangun akhlak, mengembangkan keterampilan, menguasai literasi digital, dan mulai berlatih memimpin. Masa depan, lanjutnya, jangan dipersempit oleh pergaulan yang merusak, keputusan tergesa-gesa, atau lingkungan yang tidak mendukung pertumbuhan diri.

Pesan kedua, kata Helmi, remaja yang kuat membutuhkan keluarga yang kuat. Pembentukan karakter remaja tidak hanya menjadi tanggung jawab anak, tetapi juga membutuhkan dukungan keluarga, sekolah, madrasah, lingkungan pertemanan, komunitas keagamaan, dan masyarakat.

"Keluarga harus menjadi ruang utama yang aman bagi anak, tempat anak dapat berbicara tanpa takut disalahkan, bertanya tanpa dipermalukan, dan menyampaikan persoalan tanpa langsung dipersalahkan," tuturnya.

Helmi menilai komunikasi antara orang tua dan anak semakin penting di tengah tingginya penggunaan gawai. Menurutnya, waktu bersama keluarga, termasuk saat makan, dapat menjadi ruang untuk membicarakan aktivitas, prestasi, dan persoalan yang dihadapi anak.

"Tanpa gawai, saat makan bersama, mestinya ada komunikasi antara orang tua dan anak. Bertanya bagaimana hari ini, bagaimana prestasi anak, apakah anak sedang punya masalah," jelasnya.

Ia juga mengingatkan peserta yang telah mengikuti pelatihan selama tiga hari agar menjadi teladan setelah kembali ke sekolah masing-masing.

"Tolong berikan yang terbaik, dan jadilah contoh. Kalau kalian menginginkan orang tua yang baik, kalian pun harus menjadi anak yang baik dan mengerti hati orang tua," pesannya.

Helmi mengatakan, Kementerian Agama memiliki peran penting dalam memberikan pembinaan kepada remaja sejak usia sekolah. Layanan keagamaan, menurutnya, perlu hadir lebih awal dan tidak hanya ketika remaja memasuki usia pernikahan.

"Melalui bimbingan remaja usia sekolah, kita ingin layanan keagamaan hadir lebih awal, tidak menunggu remaja siap menikah, tetapi hadir sejak mereka tumbuh, membangun nilai, mengenali diri, dan menentukan arah kehidupan," ujarnya.

Pesan ketiga, Helmi mengajak peserta menjadi teman yang membawa perubahan. Menurutnya, Peer Educator memiliki posisi strategis untuk menyampaikan pengetahuan dan pengaruh positif kepada teman sebaya.

"Setelah mengikuti kegiatan ini, kalian memiliki posisi yang istimewa karena terpilih mewakili sekolah masing-masing. Kalian siap menjadi Peer Educator, siap terjun ke masyarakat maupun ke sekolah," katanya.

Helmi meminta peserta tidak hanya menyimpan pengetahuan yang diperoleh selama pelatihan, tetapi juga membagikannya kepada teman sebaya.

Dalam menjalankan peran sebagai Peer Educator, ia meminta para remaja menerapkan lima prinsip yang disebut 5M, yaitu Mendengarkan, Mendukung, Membawa informasi yang benar, Menguatkan, dan Merujuk.

Mendengarkan berarti hadir untuk teman tanpa buru-buru menghakimi. Mendukung berarti memberikan dukungan kepada teman yang membutuhkan. Membawa informasi yang benar berarti tidak menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya, terutama terkait perkawinan, kesehatan, agama, dan kehidupan keluarga.

Menguatkan berarti membantu membangun kepercayaan diri teman dalam menghadapi persoalan dan mengambil keputusan. Sementara Merujuk berarti mengetahui batas kemampuan diri. Ketika menghadapi persoalan yang terlalu berat, Peer Educator tidak harus menyelesaikannya sendiri, tetapi dapat mengajak teman mencari bantuan kepada orang tua, guru, konselor, penghulu, penyuluh agama, atau pihak yang berkompeten.

"Menjadi Peer Educator bukan berarti menjadi paling tahu, tetapi menjadi teman yang mau mendengar, mampu memberikan informasi yang benar, dan tahu kapan harus merujuk teman kepada pihak yang berkompeten," tegasnya.

Helmi menggambarkan Peer Educator seperti satu lilin yang menyalakan lilin lainnya. Menurutnya, satu cahaya mungkin terlihat kecil, tetapi ketika terus menyebar, kebaikan dapat menerangi lingkungan yang lebih luas. "Jadilah cahaya bagi teman-teman kalian. Mulai dari satu orang, satu sekolah, kemudian terus menyebarkan kebaikan," pungkasnya.

Sumber:
https://bimasislam.kemenag.go.id/post/berita/penasihat-dwp-kemenag-sampaikan-tiga-pesan-untuk-remaja

Komentar